Kisah Dulu dan Sekarang Ahli Bedah Saraf Senior, 26 Tahun Mengabdi pada RSPP

Ingetberita, Jakarta – Prof. Satyanegara, dokter ahli bedah saraf senior di Indonesia sempat menceritakan apa yang terasa dalam batin, ketika meniti karir dan mengabdikan diri khususnya pada Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) selama 26 tahun (1972 – 1998) dan hampir 60 tahun menangani masalah kesehatan pasien khususnya bedah saraf.

Keadaan batin (dalam hati), ia tidak mengira kalau pada saat tertentu ada yang tertarik mengetahui pengabdiannya pada RSPP.

“Padahal banyak orang yang lebih tertarik pada kegiatan pendampingan saya dengan orang penting (1972 – 1998). Justru saya berusaha menghindar untuk sharing mengenai (pendampingan) orang penting,” kata Prof. Satyanegara saat ditemui di ruang praktiknya di Rumah Sakit Satya Negara (RSSN) Sunter Jakarta Utara, Sabtu (30/12/2023).

Prof. Satyanegara kembali ke Indonesia pada tahun 1972, karena diminta Pak Harto (presiden ke 2 RI, alm. Soeharto). Awalnya sempat ada keraguan, tapi tidak lama kemudian ia semakin yakin dan merasa bangga. Kembali ke Indonesia, awalnya dipercaya sebagai kepala bagian operasi RSPP. Baru satu tahun, ia semakin dipercaya untuk mengordinasi RSPP dan Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSPJ, Jl. Jend. Ahmad Yani, Cempaka Putih Jakarta Pusat) dan 15 poliklinik milik Pertamina.

Selain, ia juga harus Ia harus tangani poliklinik milik Pertamina di berbagai daerah seperti Balikpapan (Kalimantan Timur), Manado (Sulawesi Utara), kec. Pangkalan Susu (Kab. Langkat, Sumatera Utara), Pangkalan Brandan (kawasan pelabuhan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara).

“Waktu masih muda, fisik kuat untuk kegiatan sidak (inspeksi mendadak) ke 15 poliklinik di Jakarta, RSPJ dan beberapa poliklinik di daerah. Kalau sekarang, selesai dari sini (RSSN Sunter), saya langsung ke Tzu Chi hospital (Pantai Indah Kapuk). Ada juga jadual (praktik) di Mayapada Lebak Bulus. Jalanan macet, tapi untungnya ada jalan tol,” ujar Profesor kelahiran 1 Desember 1938 di Kudus Jawa Tengah.

Dulu, ketika mau sidak ke RSPJ, ia berangkat dari RSPP di Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Pagi kerja, ia bergelut dalam rutinitas melakukan perawatan bedah maupun non bedah kepada pasien. Selain ia harus mengelola berbagai surat administrative terkait fasilitas pelayanan kesehatan.

“Sidak mendadak ke RSPJ, pas jam makan siang. Paling lama, perjalanan (Kebayoran Baru – RSPJ) hanya setengah jam. Karena (lalu lintas di Jakarta) dulu belum macet seperti sekarang. Terutama periode 1988 – 1998, waktu menjabat Kepala RSPP, sangat sibuk,” tutur Satyanegara.

Kegiatan management RSPP dan RSPJ sebetulnya satu paket sejak awal. Pada tahun 1967, direktur utama Pertamina saat itu, Ibnu Sutowo, menggagas pembangunan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang akhirnya diresmikan pada tahun 1972 oleh Presiden Soeharto.

Saat itu, Pertamina maju dengan konsep production sharing dalam industri minyak Indonesia. Apalagi pada tahun 1973, harga minyak dunia melonjak hingga 400 persen. Jumlah pegawai Pertamina juga banyak sehingga 15 poliklinik dibangun terbatas untuk pelayanan kesehatan kepada pegawai. 15 poliklinik tersebar, antara lain di Depo Plumpang, Rawamangun sampai kantor pusatnya di Jl. Medan Merdeka Timur.

“Saya mengelilingi 15 poliklinik. RSPP dan RSPJ menerima pasien dari luar. Kalau poliklinik terbatas untuk pegawai Pertamina, tapi kadang terima pasien luar. Saya lebih senang langsung turun lapangan, dan mendengar langsung apa yang perlu follow up. Penanggung Jawab poliklinik biasanya temui saya di RSPP,” kata Prof. Satyanegara.

“Untuk (penyelenggaraan) RSUD (rumah sakit umum daerah) milik Pertamina, dulu ditangani, namanya biro kesehatan Pertamina. Kepala Biro tangani semua RSUD, kecuali RSPP. Dulu, (jenjang jabatan) kepala biro di atas kepala RSPP. Sejak saja menjabat (Kepala RSPP), kepala biro kesehatan di bawah saya. Ada perubahan organisasi Pertamina,” tambah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *