Miras Oplosan Haram! Bisa Sebabkan Kebutaan hingga Kematian

ingetberita.com, Jakarta  – Keracunan metanol, yang disebabkan oleh konsumsi minuman beralkohol oplosan yang dicampur dengan metanol, telah menjadi masalah kesehatan masyarakat sejak abad ke-20, yang mengakibatkan ribuan kematian setiap tahun tetapi tetap tak terlihat dan tidak dilaporkan karena kurangnya kesadaran dan obat penawar yang tidak dapat diakses, menurut organisasi kemanusiaan medis internasional Dokter Lintas Batas/ Medecins Sans Frontieres (MSF).

Pernyataan tersebut dibuat dalam seri webinar “Overshadowed by COVID-19: Neglected Diseases in the Spotlight” yang menyoroti empat penyakit yang terabaikan di Asia selama pandemi seperti hepatitis C, TBC, campak, dan keracunan metanol (miras oplosan). Webinar terakhir dari seri empat bagian berjudul “Keracunan Metanol: Minuman Ilegal yang Membunuh” (Methanol Poisoning: The Illegal Brew That Kills). Diskusi langsung menyoroti isu endemik yang dihadapi oleh negara-negara seperti Iran, Indonesia dan Filipina.

Pembicara tamu Dr Hossein Hassanian-Moghaddam, profesor di Universitas Ilmu Kedokteran Shahid Beheshti, berbagi pengalaman langsungnya sebagai dokter di Iran dalam menanggapi wabah keracunan metanol/miras oplosan.

“Iran adalah negara endemik keracunan metanol hari ini karena larangan alkohol. Banyak orang yang ingin minum alkohol pergi ke pasar gelap, di mana mereka menemukan minuman beralkohol buatan sendiri dan bahkan alkohol bermerek yang dikemas ulang. Mereka tidak menyadari risiko keracunan. Pandemi COVID-19 telah meningkatkan permintaan alkohol, termasuk sanitiser untuk disinfektan, akibat informasi yang salah bahwa alkohol dapat mencegah atau menyembuhkan COVID-19. Baik konsumsi minuman dan pembersih tangan yang terkontaminasi metanol telah menyebabkan lebih dari seribu kematian selama pandemi. Lima persen dari kematian ini disebabkan oleh misnformasi.”

Meskipun beban keracunan metanol/miras oplosan tinggi di negara berkembang, kesadaran akan penyakit ini, mulai dari diagnosis hingga pengobatan, masih sangat rendah dan berkontribusi pada kematian yang tinggi.

“Bahkan bagi saya sebagai seorang dokter, saya belum pernah mengikuti pelatihan tentang alkohol beracun sebagai mahasiswa kedokteran. Banyak dari kita [dokter] belum pernah melihat pasien mabuk selama pelatihan medis. Seringkali, wabah ini terjadi di negara berkembang yang menghadapi kekurangan kapasitas perawatan kesehatan. Dan ini berkontribusi pada keracunan metanol yang tidak dilaporkan terutama di Timur Tengah dan Asia. Sebagian besar pasien saya adalah di antara populasi muda, peminum pertama kali berusia sekitar 16 dan 17 tahun. Beberapa dari mereka sekarang buta. Di negara-negara di mana petugas layanan kesehatan tidak terlatih dalam mendiagnosis penyakit, hasilnya bisa menjadi tidak biasa dan dapat menyebabkan ketegangan jangka panjang pada sistem perawatan kesehatan publik. Dalam hal fase akut, itu bisa membunuh banyak orang.”

Stigma dan prasangka adalah salah satu faktor yang berkontribusi pada kesalahan diagnosis dan hilangnya nyawa akibat keracunan metanol/miras oplosan, menurut Dr Chenery Lim, seorang dokter MSF yang telah bekerja di Asia Tenggara untuk menanggapi wabah keracunan metanol/miras oplosan.

“Ada stigma besar di balik hanya mengatakan itu keracunan alkohol. Tidak ada yang mengira bahwa pasien yang mereka temui sebenarnya adalah korban. Orang-orang sudah memiliki prasangka terhadap mereka yang mengonsumsi minuman ilegal, terutama di negara-negara yang ketat secara budaya atau agama. Misalnya di Indonesia, di mana alkohol tidak diperbolehkan untuk dijual di pasar, sumber keracunan biasanya adalah alkohol yang diramu secara ilegal yang dapat dibeli dari “toko minuman” tanpa izin. Kesadaran yang rendah dan kemungkinan isolasi sosial menghalangi orang untuk mencari perawatan medis,” jelas Dr Lim.

Dia menambahkan, “Anda juga dapat melihat stigma di lingkungan rumah sakit. Di banyak rumah sakit, jika Anda harus memilih antara pasien yang minum alkohol versus pasien demam, mereka akan lebih memilih untuk merawat pasien demam terlebih dahulu karena yang satunya dinilai sebagai ‘pemabuk’. Bahkan, angka kematian 24% keracunan metanol cukup tinggi. Dibandingkan dengan penyakit lain yang dapat dicegah, tingkat kematian itu akan membuat para praktisi medis khawatir dan akan segera meminta tanggapan darurat. Namun karena stigma dan prasangka yang tinggi, keracunan” metanol menjadi terabaikan dan sangat sedikit yang memusatkan perhatian padanya.”

Dr Hassanian-Moghaddam menambahkan, “pasien juga ragu-ragu atau menolak untuk menyatakan bahwa mereka minum alkohol. Jadi dokter bisa langsung bertanya kepada pasien secara rahasia, dan pasien harus jujur sehingga diagnosis dan pengobatan yang tepat dapat dilakukan dan korban jiwa serta efek samping yang parah dapat dihindari.”

Mengingat kurangnya kesadaran dan tantangan diagnostik, pendidikan untuk dokter dan juga masyarakat sangat penting untuk mengurangi kematian dan untuk lebih memahami beban penyakit ini di banyak negara.

“Alkohol banyak macamnya, misalnya di Filipina ada ethanol, methanol, dan isopropyl yang cukup banyak digunakan. Alkohol ini memiliki berbagai jenis tanda dan gejala. Karena itulah MSF berusaha meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan masyarakat ini dan menekankan kepada para klinisi untuk selalu waspada terhadap keracunan metanol,” tambah Dr Lim tentang pentingnya kesadaran untuk menyelamatkan nyawa.

“Perubahan kebijakan, mendatangi ke orang yang tepat, menunjukkan konsekuensi medis dari pengabaian penyakit ini, dan menjelaskan bahwa secara klinis seorang pasien yang mencari perawatan medis karena keracunan alkohol harus dilihat sebagai pasien yang membutuhkan perhatian medis untuk menyelamatkan hidup sangat penting. Jika ada satu pasien, berarti ada banyak di masyarakat yang membutuhkan perawatan penyelamatan jiwa,” kata dr Lim.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *