Optimis dengan Pasar Ekspor Lada, BP3L Perbaiki Data

Ingetberita, Jakarta – BP3L (Badan Pengelolaan Pengembangan Dan Pemasaran Lada) tetap optimis, lada putih (Muntok White Pepper/MWP) diserap pasar ekspor di tengah kondisi adanya gangguan mekanisme pasar dan laporan data yang sangat tidak akurat, bahkan menyesatkan.

Pada Laporan disebutkan, data luas kebun lada di Bangka Belitung (Babel) sekitar 64.000 (enam puluh empat ribu) hektar. Sementara, kapasitas produksi mencapai 27.000 (dua puluh tujuh ribu) ton.

“Mekanisme pasar, hukum supply and demand tetap berlaku. Tapi ada laporan data yang ngawur terutama luas kebun lada dan kapasitas produksi. Distorsi pasar akibat kesalahan data dan informasi,” kata Ketua BP3L Rafki Hariska mengatakan kepada Redaksi, Minggu (28/1/2024).

Sebelumnya Penjabat (Pj) Gubernur Babel Safrizal ZA sempat memerintahkan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk melanjutkan dan menyelesaikan program tata kelola lada putih, guna menaikkan harga dan produksi komoditas unggulan daerah itu.

Di tengah kondisi sekarang ini, produksi lada putih petani turun terus, sementara permintaan pasar tinggi sekali. Tata kelola dan pembinaan ke petani beberapa tahun terakhir terhenti, karena adanya catatan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait tata kelola lalu seluruh program pengembangan komoditas ini berhenti semuanya.

“Selain data yang tidak sinkron, pasar langsung bereaksi. Mereka (buyer) bertanya-tanya, mengapa (laporan data dan informasi) meyakinkan bahwa stok barang (MWP) masih banyak. Kalau mengacu pada mekanisme pasar, demand (permintaan) meningkat karena supply (pasokan) menurun. Tapi karena distorsi, harga juga menurun. Kami berupaya memperbaiki error data,” ujar Rafki melalui sambungan telepon.

Fakta di lapangan, stok barang semakin menipis. Beberapa buyer langsung datang ke Bangka untuk mengkonfirmasi kepada BP3L. Datanya yang mereka pegang, (bahwa) stok barang banyak. Sehingga mereka langsung datang kunjungan ke Bangka.

BP3L pun mengajak buyer untuk melihat langsung kondisi di perkebunan, sampai akhirnya dia (buyer) baru percaya. Mereka baru yakin, kalau fakta di lapangan, banyak lahan kebun lada yang mati. Sebagian besar kebun lada berubah menjadi kebun kopi, kebun sawit, dan kebun lainnya. Produksi lada putih petani turun terus, sementara permintaan pasar tinggi sekali.

BP3L sempat menawarkan stok barang kepada buyer di luar negeri, terutama Amerika di tengah kondisi adanya gangguan pada mekanisme pasar. Mereka (kedua belah pihak) sudah melakukan kontrak jual beli sebelumnya, dan berlangganan.

Tetapi kali ini, mereka sempat bertanya-tanya mengenai volume (pengiriman/ekspor) yang sedikit. Karena memang fakta di lapangan, produksi menurun karena dampak El Nino, harga rendah yang mengurangi motivasi petani.

“Pada pertemuan kami dengan Pj, BP3L sempat presentasi. Ada audiens juga menanyakan mengenai kapasitas produksi, harga. Kami baru beberkan data yang sebenarnya. Selain, kami juga yakinkan (audiens) bahwa dengan IG (indikasi geografis) pada MWP, harga bisa naik. tapi itu tidak cukup, harus tetap hilirisasi. kami tidak mau jual dalam bentuk gelondongan (bahan mentah),” kata Rafki.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *