Pegangan Hidup Dewanto Kurniawan sebagai Pengusaha

Ingetberita.com, Jakarta – Pengusaha Dewanto Kurniawan dengan bangga memperlihatkan Alkitab yang diberikan sahabatnya yang notabene anggota Gereja, alm. Leo Lopulisa (23 November 1926 – 14 September 2009) pada saat kondisinya kritis di rumah sakit dan khawatir belum ada obat untuk penyembuhannya saat itu. Tepatnya, tahun 1984, ia sempat terbaring dan mengerang karena sakit yang diderita.

Di tengah kondisi kritis, ia mengaku mendapat satu ayat Mazmur pasal 41 dan membaca kalimat per kalimatnya dengan seksama sampai akhirnya ada kesembuhan.

“Pada tahun 1984, saat kritis saya sempat minta tolong sama pak Leo untuk kasih saya satu Alkitab. Saya dapat satu ayat, Mazmur pasal 41. Saya sembuh, dan itu yang terus menjadi pegangan saya sampai sekarang,” ujar Dewanto mengatakan kepada Redaksi, Minggu (7/4/2024).

Saat ditemui di rumah kediamannya, Bapak dari tiga putra dan satu orang putri ini mengaku kerap baca Alkitab saat menjalani setiap langkah kehidupannya. Ia mengenal Letnan Jenderal TNI (Purn.) Leo Lopulisa, seorang purnawirawan perwira tinggi militer Indonesia sewaktu menjabat Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad; 1975 – 1978). Bahkan setelah alm. Leo Lopulisa menjabat Panglima Kowilhan, ia masih sering temu.

“Dari situ (sembuh dari penyakit), saya berjanji kepada Tuhan, agar mengampuni dosa. Saya tahu, pak Leo dan istri juga cetak majalah Kristen dan membagi-bagikan. Lalu kami cetak Alkitab, dan salah satunya (Alkitab) dengan catatan pada halaman depan. Tulisan tangan pak Leo (pada halaman depan Alkitab) sejak 1984 sampai sekarang, dan saya masih terus baca. Sejak 1984 sampai sekarang, berarti sudah hampir 40 tahun. Alkitab itu sebagai kenang-kenangan yang sangat berkesan,” kata Pria kelahiran Palembang, 15 November, 1942.

Saat masih berusia belasan tahun, Dewanto sudah mulai usaha kontraktor rumah-rumah tinggal. Berbagai perusahaannya, terutama Greenville Real Estate tahun 1973 merupakan titik awal bisnisnya. Ia juga membangun berbagai perumahan terutama di Jakarta Barat, seperti Green Garden, Grawisa, Taman Kota dan lain sebagainya. Kendatipun, bisnisnya juga tidak selalu mulus, lancar dan menguntungkan. Karena ada beberapa proyek yang sempat mangkrak.

“Setiap langkah kehidupan, semuanya ada di dalam Firman Tuhan. segala macam pokok perkara, termasuk cinta manusia terhadap uang. Tapi semenjak saya sembuh dari penyakit, setiap langkah kehidupan, mulai dari mau makan, sedang jalan, mau berangkat tidur, mau kerja, saya berdoa dan baca Alkitab,” ungkap Dewanto, saat ditemui di kediamannya di perumahan Green Garden.

Ia dipermandikan (dibaptis) tahun 1959 oleh pendeta Gereja Kristus Yesus (disingkat GKY) atau yang dulu dikenal dengan Kuo Yu Thang. Sampai sekarang GKY Greenville memiliki beberapa komunitas, mulai dari anak, remaja, persekutuan pemuda, wanita, keluarga, dan lansia (Kaleb), dimana jemaat bertumbuh dan saling menguatkan. Sebagai kelompok gereja Kristen Protestan di Indonesia, GKY didirikan atas dasar pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya dasar dan kepala gereja sebagaimana yang tercantum dalam Alkitab (Matius 16:18, 1 Korintus 3:11, dan Kolose 1:18).

“Tuhan memberi saya berkat. Sehingga saya sumbang tanah selus 4800 (empat ribu, delapan ratus meter persegi) untuk Gereja di Green Ville. Dari awalnya, Gereja kecil, GKJMB (Gereja Kristus Yesus Mangga Besar) terus berkembang, sampai Singapura, Hongkong dan berbagai daerah di Indonesia. Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung di Kedoya Utara, Kebon Jeruk Jakarta Barat juga terus berkembang,” kata Dewanto.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *