Prof. Satyanegara & RSPP, Sempat Overload Tangani 17 RS di Berbagai Daerah

Ingetberita, Jakarta – Prof. Satyanegara, dokter ahli bedah saraf senior di Indonesia, selama meniti karir hampir 60 tahun terutama di Indonesia, mengaku sempat overload dengan rutinitas mengobati pasien yang sudah melebihi kapasitasnya.

Ketika ia baru satu tahun dipercaya sebagai kepala bagian (kabag) operasi Rumah Sakit (RS) Pertamina Pusat atau RSPP pada September 1972, lalu diminta tangani 15 poliklinik dan RSPP serta Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSPJ).

“Awalnya saya sebagai kabag operasi. Sekitar satu tahun kemudian, (dipercaya) tangani (ruang operasi) di seluruh (rumah sakit/poliklinik) milik Pertamina. Ada 15 poliklinik (di beberapa daerah), dan dua rumah sakit termasuk RSPJ (Jl. Jend. Ahmad Yani, Cempaka Putih Jakarta Pusat). Keseluruhan 17 rumah sakit,” kata Prof. Satyanegara saat ditemui Redaksi di ruang prakteknya di bilangan Sunter Jakarta Pusat, Sabtu (16/12/2023).

Pada saat yang bersamaan, ia harus melaksanakan pelayanan dan pemeliharaan kesehatan alm. Soeharto (presiden ke 2 RI; Maret 1968 – Mei 1998). Sebagai ketua tim dokter presiden pada saat itu, ia juga harus melayani anggota keluarganya.

Ia harus tangani rumah sakit (poliklinik) milik Pertamina di berbagai daerah seperti Balikpapan (Kalimantan Timur), Manado (Sulawesi Utara), kec. Pangkalan Susu (Kab. Langkat, Sumatera Utara), Pangkalan Brandan (kawasan pelabuhan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara).

“Di tengah kondisi overload, saya masih merasa beruntung karena ada guru-guru besar (fakultas kedokteran), menteri-menteri. Mereka mau memberi pendapat, advis dan saran untuk mengawasi keseluruhan rumah sakit Pertamina di daerah,” ungkap Prof. Satyanegara.

 

Secara garis besar, ia menangani tiga pekerjaan sekaligus dengan klasifikasinya masing-masing. Saat itu, ia baru saja pulang ke Indonesia (September 1972) karena diminta alm. Soeharto. Falsafah pengabdiannya khususnya pelayanan di bidang kesehatan, sudah sesuai dengan janji ketika diminta pulang dari Jepang, oleh alm. Soeharto.

“Setelah pulang ke Indonesia, karena terlanjur posisi saya sudah terjun (mengabdi) di masyarakat, tugas saya tiga kali lipat,” tutur kakek dari empat orang cucu.

Selain rutinitas di rumah sakit dan poliklinik, kadang ia harus inspeksi di daerah. Untungnya, ada fasilitas transportasi yang memadai dari Pertamina untuk setiap kali kunjungan ke daerah. Saat itu, ia seorang minoritas pertama yang dipercaya untuk tangani rumah-rumah sakit Pertamina di daerah.

Seiring waktu berlalu, karena dinamika perubahan pada industri minyak dan gas nasional maupun global, Pertamina melakukan upaya-upaya penataan seluruh aspek, yang dituangkan dalam Restrukturisasi Pertamina secara menyeluruh.

Restrukturisasi tersebut kemudian menuntut kemandirian sarana-sarana penunjang yang dimiliki Pertamina, mengingat bahwa Pertamina hanya akan bergerak pada bisnis intinya saja yaitu pengelolaan sumber daya minyak dan gas bumi, maka Pertamina melepaskan kegiatan-kegiatan yang tidak secara langsung berhubungan dengan core businessnya.

“Pertamina mulai diberesi (ditata ulang) pemerintah saat itu. RSPP harus berdikari dan mandiri, sedangkan Pertamina hanya khusus tangani (pengelolaan) minyak dan gas bumi saja. PT. RSPP didirikan berdasarkan Akta Nomor 30 tanggal 21 Oktober 1997. Saya sebagai direktur pertamanya (PT RSPP). Sampai sekarang (sejak pensiun dari RSPP tahun 1998/1999), saya tidak pernah masuk ruang kerja, padahal ada foto saya terpampang,” katanya. (alb)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *