Prospek TCM di Indonesia Harus dengan Sertifikasi Halal

Ingetberita. Com, Jakarta – PBF (Pedagang Besar Farmasi) Apt. Rina Susanti, S.Farm melihat potensi dan prospek pasar Traditional Chinese Medicine (TCM) di Indonesia, dan impor serta pengembangannya tidak tertutup sampai saat ini.

Kendatipun produk TCM harus dibarengi dengan pendaftaran sertifikasi halal. “Semua negara boleh memasarkan karena pasar Indonesia sexy. Tapi apapun produknya termasuk minuman, air putih harus bersertifikat halal. Karena Indonesia, negara muslim terbesar,” kata Rina, yang juga founder Youtube Channel TOB Health & Beauty.

Berbagai bahan baku, kedepannya secara perlahan juga akan dikenakan ketentuan sertifikasi halal. Beberapa bahan baku farmasi sudah dilakukan sertifikasi plus logo yang ditempelkan pada kemasan produk tersebut. Untuk sebuah bahan baku, ada proses sertifikasinya. Terkait dengan prospek pemasaran TCM di Indonesia, importer juga harus mengecek ketentuan sertifikasi di Tiongkok untuk bahan baku.

“Apa yang menjadi persyaratan, harus dicek. (importer) harus melihat bahan bakunya, misalkan sebatas curcumin yang ada bahan pengisinya. Bahan utamanya yang penting, dan harus dicek aman atau tidaknya. Ada solvent (pelarut) juga,” kata Rina.

Curcumin merupakan zat bioaktif utama yang terdapat dalam tanaman rempah curcuma seperti kunyit dan temulawak. Manfaat curcumin baik untuk kesehatan dan imunitas tubuh. Selain itu, ada tracking (tertelusur) yang tepat pada registrasi halal. Seperti di Tiongkok, ada beberapa lembaga yang menyelenggarakan ketentuan jaminan produk halal. Visi dan misi lembaga tersebut sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama Indonesia.

Sehingga kalau impor TCM ke Indonesia, ada tahapan pengecekan produk yang sudah teregistrasi atau belum pada negara asal. Seperti pemanfaatan curcumin yang banyak di Indonesia, salah satunya untuk meningkatkan nafsu makan pada anak. Ternyata banyak bahan bakunya dari herbal. Kalau importer memproses pemasaran di Indonesia, harus ada sertifikat halalnya dari Tiongkok yang diakui Indonesia. Sehingga ada proses assessment nya terlebih dahulu mengenai kesahihan sertifikasi halal pada lembaga di Tiongkok tersebut. “Mereka buka certificate of analysis (COA) nya. karena COA memang penting, menentukan kemurnian suatu zat,”kata alumni Fakultas Farmasi Univ. Pancasila (FFUP) ini.

Sementara itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing terbuka untuk mendorong prospek kerjasama dan pengembangan TCM. Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun sempat gelar rangkaian kunjungan kerja ke Provinsi Anhui beberapa waktu yang lalu.

Rombongannya berkunjung ke perusahaan Anhui Jiren Pharmaceutical Co., Ltd., di Kota Bozhou, Provinsi Anhui. Rombongan juga gelar pertemuan dengan Walikota dan Pimpinan Politik Kota Bozhou yang menyatakan minat untuk mendorong kerja sama Indonesia – Tiongkok di bidang kesehatan, khususnya sektor pengobatan tradisional. Kota Bozhou dikenal sebagai “Kampung Halaman untuk TCM” dan dikenal sebagai “Kota Panjang Umur” serta banyak pengusaha yang berkiprah di bisnis penanaman, pengolahan dan penjualan TCM.

Anhui Jiren Pharmaceutical Co., Ltd., merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di Tiongkok yang memproduksi dan mengembangkan obat tradisional Tiongkok dengan teknologi modern. Salah satu produk mereka Shufeng Jiedu Jiaonang terbukti bermanfaat untuk pengobatan pasien terinfeksi COVID-19 di Tiongkok.

Produk ini mendapatkan China Patent Gold Award serta terdaftar sebagai obat yang direkomendasikan dalam Protokol Diagnosis dan Perawatan untuk COVID-19 dari Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok. Saat itu, Anhui Jiren bekerja sama dengan mitranya di Indonesia untuk mengembangan obat berbasis bahan bahan baku tradisional yg melimpah ruah di Indonesia termasuk untuk pencegahan dan pengendalian pandemi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *