PT Nexport Optimis Tutupi Defisit Perdagangan dengan Uzbek

Ingetberita, Jakarta – PT Nexport Global Network optimis menutupi defisit perdagangan bilateral Indonesia – Uzbekistan/Uzbek pasca pembukaan Nexport Center di Samarkand (Uzbek) untuk memasarkan berbagai komoditas yang dibutuhkan, terutama alat kesehatan (alkes), produk farmasi, sanitizer dan lain sebagainya.

“Saat ini, (perdagangan bilateral) kita masih defisit dengan Uzbek. Kita impor pupuk dalam jumlah besar sehingga kita usahakan seimbangkan dengan medical product, alkes, farmasi,” ujar Devi Erna Rachmawati dari PT Nexport Global Network mengatakan kepada Redaksi, Selasa (5/12).

Selain export center, perusahaan swasta nasional Indonesia membuka pabrik Sterilyn di Uzbek. Produsen Indonesia optimis dengan opportunity prospek pasar. Selama ini, Uzbek impor berbagai produk farmasi, alkes dari Tiongkok. Sehingga PT Sterilyn Halal Internasional akan intens memasarkan produk Indonesia melalui fasilitas Nexport.

“Hampir seratus persen, impor produk alkes, farmasi dari Tiongkok, Amerika. Kami buka pabrik (di Uzbek) dan kerjasama dengan Kemenkes (Kementerian Kesehatan RI) untuk memenuhi berbagai kebutuhan untuk rumah-rumah sakit,” kata President Director PT Sterilyn Halal Internasional ini.

Penduduk Uzbek hanya sekitar 30 juta tapi Uzbek sebagai hub untuk negara-negara ex Uni Soviet. Keseluruhan, jumlah penduduknya bisa mencapai sekitar 300 juta jiwa. Sterilyn membangun strategi ekspor untuk prospek pasar 300 juta tersebut tidak hanya di medical, tapi juga peternakan, pertanian, perikanan.

Sehingga dengan kementerian pertanian Uzbek, Sterilyn sudah menandatangani MoU (memorandum of understanding) untuk promosi produk RI. Produk desinfektan untuk peternakan dan kesehatan hewan di Uzbek juga masih sangat mengandalkan impor. Desinfektan untuk ternak kambing saja bisa sampai 22 juta ekor setahun.

“Prospek pasar sangat besar. 22 juta domba per tahun, belum termasuk kuda, ayam. Daging kuda, rusa sangat banyak dikonsumsi. Saya sempat merasakan daging rusa waktu kunjungan ke Uzbek,” tutur Wakil Presiden Indonesia – Eurasia International Council (IEIC).

Strategi pemasaran produk Indonesia terutama desinfektan jug dengan mengedepankan local content (komponen dalam negeri). Hal ini sangat berpengaruh terhadap pasar untuk membeli produk Sterilyn di pasar local. Pabrik Sterilyn dibuka secara resmi beberapa waktu yang lalu, dihadiri wakil gubernur Samarkand, pejabat terkait, duta besar Indonesia untuk Uzbek (Prof. Sunaryo Kartadinata), perwakilan beberapa perusahaan local Uzbek. investor pertama utk industri di Uzbek.

“Kami investor asing pertama di Uzbek untuk industri peternakan, pertanian. Ke depannya, step by step, kami akan produksi produk kesehatan, alkes, farmasi. Mereka juga minta kopi, green bean, kopi bubuk, roasting. Mereka juga minta frozen food. Banyak sekali (yang potensial diserap pasar) seperti ikan, udang (frozen food), tropical fruit seperti manga, salak, buah naga. Mereka tidak punya laut dan mereka butuh tuna,” ungkap Devi Erna. (AW)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *