Visi Penciptaan Manusia Sehat, Ilmu Kedokteran dengan Riset Bioteknologi

Ingetberita, Jakarta – Penguasaan Bioteknologi dalam bidang kesehatan sangat penting sehingga perlu rumah sakit (RS) pendidikan dan penelitian yang berkualitas, terutama kegiatan belajar dan mengajar tentang perubahan pada makhluk hidup yang berpotensi mengganggu secara molekuler-genomic.

“Untuk itu, pusat riset bioteknologi sangat dibutuhkan. Sementara, disini (Indonesia) profesi dokter masih bisa dihitung dengan jari. Kita masih perlu memikirkan bagaimana menciptakan manusia yang sehat, ilmu kedokteran dan lain sebagainya,” kata ahli bedah saraf, Prof. Satyanegara pada acara pengangkatannya sebagai Ketua Board of Trustee Fakultas Kedokteran President University, Rabu (6/3/2024).

Setelah tahun 2020, era future atau preventive medicine, research center atau research hospital sangat dibutuhkan. Sebagaimana ada 60 – 75 triliun sel pada manusia. Sel yang normal, 30 – 38 triliun didampingi bakteri, jamur dan lain sebagainya pada tubuh kita. Salah satunya kedokteran preventif, (yakni) dengan kegiatan pada research hospital.

“Bagaimana jalannya untuk mencapai tujuan, kita harus menguasai bioteknologi pada rencana pembangunan teaching and research hospital di Jababeka, Cikarang (Bekasi),” ujar Guru Besar di beberapa fakultas kedokteran di Indonesia.

Penyakit adalah perubahan sel secara abnormal sehingga mengganggu makhluk hidup normal dan menyebabkan penderitaan. Sementara rumah sakit (RS) yang mendidik calon Dokter dan membekali mereka dengan berbagai keilmuan untuk tangani 22.811 penyakit yang sudah ada hingga saat ini. Setelah pandemic covid 19 (2020 – 2023), jumlah penyakit bertambah lagi setiap harinya.

“Kita harus kejar peningkatan kualitas pendidikan untuk rumah-rumah sakit termasuk penguasaan bioteknologi dalam bidang kesehatan,” kata anggota tim dokter kepresidenan di era Presiden ke 2 RI, alm. Soeharto.

Masa yang masih berjalan dan terus berkembang intensif. Ada penemuan gejala penyakit yang spesifik. Sehingga upaya perbaikan gejala yang muncul, dengan menghentikan sesuai dengan penyebab definitifnya. Perkembangan bidang kesehatan memang sudah kelihatan, termasuk pengobatan terpersonalisasi berbasis genomik. Selain, ada Big Data Learning & Kecerdasan Buatan/Artificial Intelligence.

“Waktu saya masih mahasiswa tahun 1963/1964. Ada profesor yang sedang menyusun kamus kedokteran. Saya sempat ditanya berapa jumlah penyakit yang bikin manusia menderita. saya tidak bisa jawab karena masih mahasiswa. Dia jawab, (saat itu) hanya 12 ribu jenis penyakit. Jumlah Penyakit di dunia menurut The Human Disease Database sampai tahun 2017 sebanyak 22.811,” ungkap Prof. Satyanegara.

Sehingga era preventive medicine mulai tahun 2020, peran bioteknologi semakin dibutuhkan untuk membuat dan memodifikasi organisme secara sintetis. Bioteknologi adalah perpaduan dari ilmu pengetahuan alam & ilmu rekayasa/teknis dengan tujuan untuk meningkatkan pemanfaatan organisme hidup, sebagian dari organisme, sel ataupun analog molekuler untuk menghasilkan barang & jasa.

Prinsip dasar Bioteknologi: menggunakan agen biologi, memakai metode tertentu, menghasilkan suatu produk turunan, dan melibatkan multidisiplin. Peran research hospital, (peneliti) harus sudah bisa menemukan pengobatan mengingat satu manusia terdiri dari 30 – 35 sel nukleus.

Para dokter harus mengambil tindakan pre-clinical terhadap pasien. Dokter dituntut tidak lagi hanya sebatas penyembuhan, tapi perlu penyempurnaan (kesehatan pasien). Banyak penyakit yang tidak dikenal, sulit disembuhkan. Sehingga kita perlu terus kejar penguasaan bioteknologi melalui pembangunan research and teaching hospital. Nobel prize (hadiah Nobel) di dunia sudah diterima 965 orang, 227 orang di bidang kedokteran.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat, kita bisa menyaksikan penerima Nobel Prize Pertama di bidang Kedokteran dari Indonesia, berawal dari teaching and research hospital di Jababeka Cikarang,” kata Prof. Satyanegara.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *